Jumat, 14 Agustus 2009

Krisis Belum Usai, Pacu Jalur 2009 Kurang Meriah





Event Pacu Jalur di Batang (Sungai) Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), tahun ini tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Mulai dari tingkat kunjungan masyarakat, antusias pedagang tempatan, maupun partisipasi peserta pacu jalur.

Menurut Pengamat Budaya Kuansing, Said Mustafa Husein, Pacu Jalur yang digelar 6-9 Agustus 2009, memang terjadi penurunan peserta dibanding sebelumnya. Tahun lalu, peserta mencapai 196 jalur atau 9.800 anak jalur (orang yang menjalankan jalur). Tapi tahun ini hanya dikuti 136 jalur dan 6.850 anak jalur.

”Memang tak dapat dipastikan penyebab lunturnya atusias masyarakat, peserta dan pengunjung Pacu Jalur tahun ini. Tetapi masyarakat Kuansing mengakui kurangnya peminat karena dipengaruhi faktor ekonomi yang menurun pasca krisis global,” paparnya kepada riaubisnis.com, Kamis (6/8/2009).

Sementara itu, kurang ramainya pedagang makanan khas Kuansing pada event tersebut, karena para pedagang makanan khas daerah tidak lagi boleh berjualan di Tepian Narosa. ”Itu berdasarkan kebijakan Dinas Pasar Kuansing tentang larangan berjualan di Tepian Narosa yang dikeluarkan Bupati Kuansing beberapa bulan lalu,” ungkap Said.

Salah seorang anak jalur dari Kecamatan Kuantang Tengah yang tahun ini tidak ikut Pacu Jalur, Rudi (35) mengatakan, ketidak ikut sertaannya karena faktor ekonomi di desanya. Dimana, masyarakat di desanya sebagaian besar bermata pencarian petani sawit dan karet. ”Saat ini harga sawit dan karet masih anjlok,” katanya.

Padahal, untuk mengikuti event tersebut membutuhkan biaya operasional minimal Rp 5 juta per jalur, dengan anggota 50 orang. Biaya tersebut tidak hanya untuk menghiasa jalur. Tetapi juga untuk konsumsi, suplemen dan sebagainya. Belum lagi biaya untuk mendatangkan pawang, minimal Rp 200 ribu per hari per pawang.

“Peserta pacu jalur berdasarkan utusan per desa, biasanya minimal satu desa satu jalur, tetapi juga disesuaikan dengan kemampuan desa. Jika kemampuan keuangan desa cukup bagus, maka bisa saja mengutus dua tau tiga jalur,” jelas Rudi.

Tahun ini, karena peserta lebih sedikit dibandingkan tahun lalu, kemeriahannya pun berkurang. Bahkan, para pedagang makanan khas Kuansing, seperti pedagang lemang, juga mengeluhkan turunnya pendapatan mereka dibandingkan tahun lalu.

Misda (29) misalnya, pedagang lemang yang biasa berjualan di Tepian Narosa setiap event Pacu Jalur, tahun ini hanya bisa berjualan di terminal yang jaraknya cukup jauh dari sungai. Sehingga, omzet yang tahun lalu bisa mencapai jutaan rupiah selama empat hari, kini dalam sehari dia hanya bisa menjual beberapa batang saja.

“Harga lemang Rp 15 ribu per batang, untuk hari ini saya baru menjual sekitar 13 batang lemang, begitu juga dengan pedagang lainnya. Sebab lokasi berjualan kami jauh lokasi Pacu Jalur, ditambah banyak masyarakat yang tidak tahu lokasi baru ini,” keluhnya.

Kepala Dinas Pasar Kuansing Muharliyus, ketika dikonfirmasi hal itu mengakui, memang ada penertiban di lokasi Paju Jalur. Dimana para pedagang dikonsentrasikan di terminal yang jaraknya cukup jauh dari lokasi Pacu Jalur.

“Ini kita lakukan dalam rangka lebih menertibkan para pedagang yang cukup banyak setiap tahunnya. Untuk itu kita konsentrasikan di sebuah lokasi yang bisa dijangkau oleh pengunjung dan tidak menghambat pelaksanaan Pacu Jalur,” jelasnya.

Gubernur Riau HM Rusli Zainal, saat membuka Pacu Jalur, Kamis (6/8/2009), event budaya tradisional ini sudah telah masuk dalam kalender pariwisata nasional perlu. Sehingga event ini perlu mendapat perhatian yang lebih baik lagi.

“Potensinya cukup bagus, jadi perlu kita kembangkan lagi. Sehingga bisa memberikan sumbangan besar bagi sektor kepariwisataan di Riau,” katanya. (*)